Kesaktian Pancasila (Ahmad Abu Farhat)

Satu Oktober yang hingga kini masih kita kenal sebagai “Hari Kesaktian Pancasila”, masih diperingati meski dengan sangat sederhana. Meskipun begitu, tidak sedikit dari anak-anak kita, bahkan kita juga, yang tidak memahami makna yang terkandung didalamnya, walau telah berkali-kali turut serta dalam khidmat peringatannya. Masalah yang paling kentara adalah kita terlalu terbiasa melibatkan diri dan anak-anak kita dalam sebuah upacara tanpa menyempatkan diri untuk membekali mereka dengan pengetahuan yang cukup tentangnya, apalagi tentang makna dan tujuannya. Padahal, siapapun kita, tidak akan pernah menginginkan anak-anak kita bersikap taklid buta dalam banyak hal yang dilakukannya.

Kalau kita mau sedikit jujur, penggunaan kata “sakti” dalam judul tulisan ini saja bisa mengundang dan menggiring kita pada banyak makna yang relatif berbeda. Bahkan boleh jadi diantara kita ada yang beranggapan dan melihatnya dari sisi mistis semata, yang dapat mendorong kita pada “pemberhalaan” Pancasila. Sikap seperti ini sesungguhnya sudah lama tercermin pada sebagian saudara kita yang sangat mendewakan Pancasila, memandangnya seolah “Kalam Tuhan” yang kekal, tidak boleh berubah, tidak boleh ditafsirkan, dan tidak boleh diganti. Atau tercermin  pada sebagian kita yang membenturkan agama dengan Pancasila, yang berujung pada lahirnya anggapan sinis “orang-orang agamis sebagai tidak pancasilais”

Harus diakui, dari kandungan prinsip dan filosofisnya, Pancasila mengandung banyak nilai-nilai luhur yang dapat memberikan arah yang baik bagi kehidupan berbangsa dan bernegara, yang menerima dan menghargai berbagai perbedaan. Tetapi kita semua tahu, nilai-nilai luhur itu baru benar-benar dapat berfungsi ketika kita memahami esensinya dan menjabarkannya dalam sikap dan perbuatan nyata, dalam perilaku santun keseharian kita. Bukan sebatas filosofi dan retorika.

Meski negara kita bukan negara agama, namun ia menempatkan agama pada posisi yang sangat menetukan dalam prinsip pembentukan negara, filosofi penyelenggaraannya, dan sebagai modal dasar pembangunan dan pengembangannya. Setidaknya, itulah makna yang kita tangkap dari upaya para pendiri negeri ini, ketika mereka menyertakan prinsip ini pada “Pembukaan Undang-undang Dasar 1945”. Dalam perkembangannya kini pada kenyataan dalam keseharian kita, pada kebanyakan diri kita, terlebih dalam penyelenggaraan negara, agama tidak lagi menjadi prioritas utama, demikian juga dalam dunia pendidikan kita.

Saatnya kita menyadari, bahwa segala upaya yang kita lakukan sebagai manusia, yang tercermin dalam sila-sila kedua hingga kelima dari Pancasila, tidak akan pernah kita dapati kebaikan dan manfaatnya jika tidak diawali dengan sikap keberagamaan dan kepatuhan kita kepada Tuhan Yang Maha Esa. Tidak akan pernah ada kebaikan yang sesungguhnya jika kita tidak berpegang teguh pada ajaran agama. Simpulnya, kesaktian Pancasila sesungguhnya amat berkait erat dan bermula dari sikap dan ketaatan kita dalam menghayati dan mengejawantahkan ajaran agama. Dan bagi seorang muslim, prinsip dan ajaran agama merupakan motif yang mendasari pengejawantahan nila-nilai Pancasila., agar segala sikap dan perbuatannya mendapat apresiasi dan nilai di sisi Allah SWT.

Perihal MTs Masyariqul Anwar Caringin
Mts Masyariqul Anwar Caringin adalah salah satu lembaga pendidikan Islam yang telah teruji kiprahnya selama puluhan tahun, dan telah banyak melahirkan generasi muda yang trampil yang berwawasan luas yang berlandaskan keagamaan.

Komentar ditutup.

%d blogger menyukai ini: