Cerita Teladan

Cerita Teladan….

BALASAN KEJUJURAN

Pada suatu hari, seorang petani pergi mendatangi rumah tetangganya yang kaya raya dan sangat gemar berburu. Ia mengadukan kerusakan yang menimpa gandum di kebunnya, yang disebabkan oleh sering dimasuki anjing-anjing yang digunakan berburu si tetangga. Orang kaya itu menyambut kedatangan si petani dengan ramah. Ia berkata : “Benar sekali, saudaraku… anjing-anjing pemburuku seringkali memasuki kebunmu. Dan tentu saja banyak menyebabkan kerusakan. Karenanya, saya bersedia untuk mengganti kerugianmu”.

Mendengar pernyataan tetangganya itu, sang petani pun berkata : “Pada saat saya melihat kerusakan yang terjadi pada kebun saya, saya memanggil seorang teman saya untuk memperkirakan kerugian. Dan kami perkirakan kerugian itu mencapai 30 ribu dirham”. Tanpa banyak bertanya orang kaya itu memberikan kepadanya ganti rugi yang diminta.

Setelah beberapa bulan. Ketika musim panen tiba…, sang petani mendapati kalau bagian kebun yang diduganya rusak, ternyata memberikan hasil yang sangat baik.. Akhirnya, setelah selesai panen, ia pergi ke tetangganya yang kaya itu. Ia beritahukan keadaan yang sebenarnya. Dan ia berkata bahwa ia sungguh-sungguh datang untuk mengembalikan harta ganti rugi yang pernah diambilnya. Karena ia menyadari kalau dirinya tidak berhak atas ganti rugi tersebut.

Dengan ramah orang kaya itu berujar…: “ Ini hal yang amat pantas terjadi antara seseorang dengan seorang lainnya.”. Kemudian ia bergegas masuk ke ruangan lain. Dan…., ia kembali ke ruangan semula dimana si petani duduk menunggunya. Ia datang dengan membawa lima kali lipat dari ganti rugi yang pernah diberikannnya. Lalu ia serahkan uang itu kepada si petani sambil berkata : “ Simpanlah uang ini sampai anakmu berusia dua puluh satu tahun. Pada saat itu tiba, sampaikan salamku dan berikan uang ini kepadanya. Dan ceritakan kepadanya tentang kisah kejadiannya”

(Terjemahan bebas oleh Ahmad Wardi dari “Jaza-ush-shidqi” dalam “al-Qiroah ar-Rasyidah juz 2 karangan Abdul Fattah Shobri Bek dan Ali Umar Bek)

BUDI PEKERTI PANGKAL KEBERHASILAN

Pada suatu ketika.., seorang saudagar kaya membuat sebuah pengumuman, bahwa ia membutuhhkan seorang pemuda yang pandai menulis untuk dipekerjakan pada perusahaannya. Tidak lama kemudan,  berdatanganlah sejumlah pemuda ke tempat itu untuk mengajukan lamaran, dengan harapan dapat diterima bekerja padanya.

Karena banyak pelamar yang datang dan lebih dari yang dibutuhkan perusahaan, saudagar itu melakukan tes seleksi dan wawancara untuk memilih calon pekerja yang sesuai dengan kebutuhan. Dipanggilnya satu persatu pemuda itu masuk ke ruangannya, diajukannya beberapa pertanyaan, dan ia memperhatikan jawaba-jawabannya dengan penuh ketelitian, sehingga ia bisa mengetahui kadar kecerdasan dan budi pekerti mereka. Dan setiap pemuda yang telah dipanggilnya tidak langsung pulang. Mereka menunggu hasil wawancara yang akan segera diumumkan pada hari itu juga.

Di tengah berlangsungnya wawancara, ada seorang pemuda yang dipanggil ke dalam ruangan dan keluar hanya dalam waktu yang sangat singkat. Dan akhirnya…., saudagar kaya itu menghentikan proses wawancara dengan keputusan yang dianggap “mengherankan”. Ia memilih pemuda yang dipanggilnya dan diwawancarainya sangat sebentar. Karenanya, para pemuda lainnya yang merasa heran dengan keputusan itu mengajukan pertanyaan. “Apa alasan anda menjatuhkan pilihan anda pada pemuda ini. Padahal anda hanya berbicara dengannya sebentar saja?”

Dengan halus dan sabar saudagar kaya itu memberi jawaban yang mencerahkan… :  “Banyak kelebihan yang ia miliki dan tidak ada pada kalian. Ia mengusapkan kedua alas kakinya ke keset pada saat ia akan masuk. Ia juga menutup pintu dengan halus dan tenang. Dari situ aku tahu bahwa ia seorang yang bersih dan teratur.  Lalu ia mengucapkan salam kepadaku dan menjawab pertanyaanku dengan cerdas dan penuh hormat. Maka aku tahu kalau ia seorang yang baik budi pekertinya. Ia juga diam dengan tenang saat menunggu gilirannya untuk dipanggil, tidak mendesak atau menghalau orang lain yang didepannya. Maka akupun tahu kalau ia adalah seorang yang tawadlu’ (rendah hati). Dan… ketika segala sifat-sifat luhur ini terkumpul dalam diri orang sepertinya, maka tidak ada lagi orang lain yang lebih utama darinya”.

Terjemahan bebas oleh Ahmad Wardi dari “Al-adab Asas an-Najah” dalam “al-Qiroah ar-Rasyidah”  juz 2 karangan Abdul Fattah Shobri Bek dan Ali Umar Bek)

MERPATI dan SEMUT

Pada suatu hari, seekor semut kecil pergi se sebuah selokan saluran air untuk minum dan beristirahat, agar ia dapat menghilangkan penat setelah bekerja keras mengumpulan bekal makanan. Tiba-tiba kakinya terpeleset, dan ia jatuh ke air. Ia tidak dapat keluar dari air itu karena ia tidak tahu dan tidak bisa berenang. Sebentar lagi ia pasti……. tenggelam.

Tidak jauh dari tempat itu, seekor merpati putih yang cantik sedang bertengger pada sebuah batu diatas air. Ia melihat dan tahu apa yang terjadi dan dialami si semut. Hatinya merasa amat kasihan, dan ia bersiiap untuk menyelamatkannya. Maka ia terbang ke daratan…. dan ia kembali dengan membawa sebuah ranting kecil pada paruhnya. Lalu ia bentangkan ranting itu dari air ke daratan. Dan…, si semut berpegangan ke ranting, lalu keluar dari air dengan selamat.

Beberapa hari setelah kejadian itu…, ketika merpati sedang bertengger pada sebuah cabang pohon dan berteduh dibawah rimbunan daunnya, seorang pemburu lewat di kejauhan dan melihatnya.  Pemburu itu pun berhenti, lalu mengarahkan senapannya ke arah merpati untuk menembaknya, sedangkan merpati tu tidak menyadarinya, sehingga ia diam saja dan tidak terbang. Keselamatan merpati terancam…

Ternyata…, semut kecil yang pernah diselamatkan oleh merpati berada tak jauh dari si pemburu. Ia melihat pemburu itu dan mengetahui maksudnya. Maka ia pun naik ke badan si pemburu. Dan…, ketika si pemburu segera melepaskan tembakannya, ia menggigitnya dengan gigitannya yang paling keras. Karena kaget dan kesakitan, si pemburu bergerak spontan, sehingga bidikannya meleset, tidak mengenai merpati yang akan menjadi sasaran…. merpati putih itupun selamat…..

Selamatnya merpati sebagai buah balasan atas kebaikannya terhadap semut. Betapa indahnya peringatan yang Allah berikan… : “wa man ya’mal mitsqoola dzarrotin khoiron yarohu”  (dan siapa yang berbuat kebajikan sebesar debupun niscaya ia akan melihat balasan kebaikannya).

Terjemahan bebas oleh Ahmad Wardi dari “Al-Hamamah wa an-Namlah” dalam “al-Qiroah ar-Rasyidah” juz 2 karangan Abdul Fattah Shobri Bek dan Ali Umar Bek)

Perihal MTs Masyariqul Anwar Caringin
Mts Masyariqul Anwar Caringin adalah salah satu lembaga pendidikan Islam yang telah teruji kiprahnya selama puluhan tahun, dan telah banyak melahirkan generasi muda yang trampil yang berwawasan luas yang berlandaskan keagamaan.

Komentar ditutup.

%d blogger menyukai ini: